Calon Ketua Umum PB HMI · 2026–2028
Swacipta HMI menempatkan daya cipta sebagai sumber kekuatan organisasi — tata kelola yang produktif, perkaderan yang menumbuhkan talenta, gerakan berbasis pengetahuan, dan ekonomi umat yang hijau.

Setiap generasi HMI mewarisi pertanyaan yang sama dengan wajah yang berbeda: bagaimana organisasi ini tetap menjadi rumah bagi mahasiswa yang ingin tumbuh, sekaligus tetap memberi arti bagi umat dan bangsa?
Pada 1947, pertanyaan itu dijawab dengan keberanian mempertahankan kemerdekaan. Hari ini, pertanyaan yang sama datang kembali di tengah disrupsi teknologi, ketidakpastian global, dan jendela bonus demografi yang tidak akan terbuka untuk kedua kalinya.
Jawaban yang kami tawarkan bernama Swacipta HMI: daya mencipta yang tumbuh dari dalam. Gagasan baru akan hidup bila diuji, dikritik, dan diperkaya bersama — karena itu naskah ini kami persembahkan sebagai bahan percakapan seluruh keluarga besar HMI.
Yusuf SugiyartoCalon Ketua Umum PB HMI 2026–2028
Yakin Usaha Sampai.
Membaca zaman
Indonesia menyongsong satu abad kemerdekaan dengan ambisi besar. Keberhasilannya bergantung pada produktivitas angkatan kerja muda — dan kesiapan mereka menghadapi perubahan yang serba cepat.
Tingkat pengangguran terbuka usia muda
Jauh di atas angka nasional sebesar 4,65 persen.
BPS
Pekerja informal per Februari 2026
Melampaui 59,93 juta pekerja formal.
BPS, Februari 2026
Keterampilan inti pekerja yang berubah atau usang
Sepanjang periode 2025–2030.
WEF, Future of Jobs Report 2025
Pekerja dunia yang membutuhkan pelatihan
Sebelum tahun 2030.
WEF, Future of Jobs Report 2025
Pekerjaan baru dari AI dan pemrosesan informasi
Sekaligus menggantikan 9 juta pekerjaan hingga 2030.
WEF, Future of Jobs Report 2025
Satu abad Indonesia merdeka
Target ekonomi kelima terbesar dunia dengan PDB US$7,3 triliun.
UU No. 59/2024 tentang RPJPN 2025–2045
Bonus demografi adalah peluang yang bersyarat. Besarnya penduduk usia produktif baru potensi awal — kualitas manusia adalah dimensi yang menentukan.
Makna Swacipta
Swacipta adalah daya mencipta yang tumbuh dari dalam: kesanggupan kader dan organisasi untuk melahirkan gagasan, karya, dan perubahan dengan kekuatan yang bersumber dari nilai, kapasitas, dan kehendaknya sendiri.
“Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta'ala.”
“Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
“Sendiri” menunjuk pada sumber dorongan, bukan ajakan menutup diri. HMI tetap bekerja sama dengan kampus, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat — yang berbeda adalah siapa yang memegang kemudi.
Padanannya dalam teori sosial adalah autopoiesis — auto (diri) dan poiesis (mencipta): sistem hidup yang terus memproduksi dan memperbarui dirinya sendiri (Maturana & Varela, 1980; Luhmann, 1995).
Tiga dimensi
Setiap dimensi berakar pada satu kualitas insan cita dalam Pasal 4 AD, sehingga ketiganya sekaligus menjadi cara membaca ulang tujuan HMI dalam konteks hari ini.
Insan akademis
Fondasi intelektual Swacipta. Kader dilatih membaca realitas dengan jernih, menguji informasi, mengolah data, dan merumuskan gagasan yang dapat dipertanggungjawabkan — lalu menyimpannya agar tidak hilang setiap kali kepengurusan berganti.
Nonaka & Takeuchi, 1995
Insan pencipta
Jantung Swacipta. Pengetahuan yang diolah keterampilan menjadi tulisan dan riset, produk digital, usaha rintisan, rancangan kebijakan, karya seni dan budaya, hingga layanan sosial yang inovatif.
Becker, 1964 · Sen, 1999
Insan pengabdi
Membawa pengetahuan dan karya ke ruang publik — ditopang data sehingga tuntutannya terukur, dan meninggalkan jejak yang bertahan: kebijakan yang berubah, komunitas yang berdaya, unit usaha yang tetap berjalan.
Advokasi berbasis bukti
Visi
Empat misi
Setiap misi menggarap satu wilayah yang diidentifikasi dari tantangan HMI, dicapai melalui dua strategi, dan melahirkan satu program strategis.
Membangun tata kelola organisasi yang efektif, meritokratis, dan produktif
Fondasi kelembagaan: administrasi yang tertib, koordinasi PB–Badko–cabang yang lancar, dan penilaian kinerja yang objektif — agar energi tidak habis untuk urusan teknis dan amanah diberikan kepada yang kompeten.
Misi 1 menjadi prasyarat bagi tiga misi lainnya: tata kelola yang produktif menyediakan sistem, data, dan budaya kerja yang dibutuhkan perkaderan, gerakan, dan ekonomi umat.
Empat program strategis
Setiap program lahir dari sepasang strategi dan menjadi kendaraan utama satu misi — dirancang bertahan lintas kepengurusan, terus hidup dan diperbarui oleh generasi kader berikutnya.
Semua programTransformasi Tata Kelola dan Budaya Kerja
Satu kanal layanan yang didampingi AI agar urusan administratif selesai lebih cepat dan tepat — dan energi pengurus kembali tercurah pada perkaderan dan gerakan.
SelengkapnyaAsah Kemampuan Nusantara
Ekosistem pengembangan kemampuan yang menghubungkan pemetaan talenta, pembelajaran, pengembangan karier, dan akses ke kesempatan pendidikan maupun pekerjaan.
SelengkapnyaMesin penggerak
Perubahan dunia kerja berlangsung lebih cepat daripada siklus kurikulum mana pun. Karena itu upskilling dan reskilling dijalankan sebagai siklus empat langkah yang menyertai kader sepanjang masa keanggotaannya.
Pendalaman keterampilan pada bidang yang sedang ditekuni, agar karya kader makin bermutu.
Pembelajaran kompetensi baru untuk berpindah atau memperluas peran — misalnya menuju ekonomi digital dan ekonomi hijau.
Latihan Kader I, II, dan III tetap menjadi poros pembentukan nilai dan cara berpikir. Teknologi, termasuk AI, mempermudah pemetaan — perlindungan data pribadi dijaga, dan keputusan penting tetap di tangan manusia.
Memetakan
Mengenali minat, kemampuan, karya, dan kebutuhan pengembangan setiap kader dengan dukungan data yang tertata.
Peta jalan 2026–2028
Fondasi diletakkan, lalu dipercepat, lalu dilembagakan — agar hasilnya dapat diwariskan kepada kepengurusan berikutnya.
Tahun pertama
Konsolidasi kepengurusan, penyusunan pedoman dan standar, pemetaan data awal kader dan cabang, serta uji coba setiap program di wilayah percontohan. Data awal menjadi dasar penetapan angka target seluruh indikator.
Tahun kedua
Perluasan program ke seluruh Badko dan cabang, penguatan kemitraan, serta penyempurnaan berdasarkan hasil uji coba.
Akhir periode
Evaluasi menyeluruh, penerbitan laporan dampak, dan pengukuhan sistem melalui pedoman organisasi agar program berlanjut lintas kepengurusan.
Bergerak bersama
Naskah ini dipersembahkan sebagai bahan percakapan seluruh keluarga besar HMI. Uji, kritik, dan perkaya gagasannya.

Pengetahuan melahirkan karya, karya menggerakkan perubahan, dan pengalaman lapangan kembali memperkaya pengetahuan. Setiap putaran membuat kader dan organisasi sedikit lebih cakap daripada sebelumnya.
Upskilling & Reskilling. Terjemahan trilogi iman, ilmu, dan amal: iman menjadi orientasi, ilmu diolah menjadi pengetahuan, amal mewujud sebagai karya serta gerakan.